Friday, February 10, 2012

Ilmu yang bermanfaat

Ciri-ciri ilmu yang bermanfaat :


1.Menghasilkan rasa takut dan cinta kepada Allah.


2.Menjadikan hati tunduk atau khusyuk kepada Allah dan merasa hina di hadapan-Nya dan selalu bersikap tawaduk.


3.Membuat jiwa selalu merasa cukup (qanaah) dengan hal-hal yang halal walaupun sedikit yang itu merupakan bagian dari dunia.


4.Menumbuhkan rasa zuhud terhadap dunia.


5.Senantiasa didengar doanya.


6.Ilmu itu senantiasa berada di hatinya.


7.Menganggap bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu dan kedudukan.


8.Menjadikannya benci akan tazkiah dan pujian.


9.Selalu mengharapkan akhirat.


10.Menunjukkan kepadanya agar lari dan menjauhi dunia. Yang paling menggiurkan dari dunia adalah kepemimpinan, kemasyhuran dan pujian.


11.Tidak mengatakan bahwa dia itu memiliki ilmu dan tidak mengatakan bahwa orang lain itu bodoh, kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah dan ahlussunnah. Sesungguhnya dia mengatakan hal itu karena hak-hak Allah, bukan untuk kepentingan pribadinya.


12.Berbaik sangka terhadap ulama-ulama salaf (terdahulu) dan berburuk sangka pada dirinya.


13.Mengakui keutamaan-keutamaan orang-orang yang terdahulu di dalam ilmu dan merasa tidak bisa menyaingi martabat mereka.


14.Sedikit berbicara karena takut jika terjadi kesalahan dan tidak berbicara kecuali dengan ilmu. Sesungguhnhya, sedikitnya perkataan-perkataan yang dinukil dari orang-orang yang terdahulu bukanlah karena mereka tidak mampu untuk berbicara, tetapi karena mereka memiliki sifat wara’ dan takut pada Allah Taala.


http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/yang-kita-lupakan-dalam-menuntut-ilmu.html


Sunday, February 5, 2012

Asal Usul Maulid Nabi

Asal Usul Maulid Nabi


Persoalan siapa orang pertama menyambut Maulid Nabi masih ramai yang tidak mengetahui dan menyedarinya. Lantas masing-masing tercari-cari dari mana asal usul Maulid Nabi ini. Oleh kerana tidak menjumpai akan asal usulnya, malah tidak diketemui akan nasnya dek kerna jahil dalam mena’kul dan memahami sunnah, maka pantas sahaja Maulid Nabi ini dihukumkan Bid’ah dan sesat. Masya Allah!

Siapa yang sampai begitu sekali ‘ingkar’ akan sunnahnya mengadakan Maulid Nabi? Tidak ada langsung dalam hatinya ‘Rukun Mahabbah’ kepada Rasulillah Sallallahu alaihi wasallam, sanggup mereka menghukum orang-orang yang mengadakan Maulid semata-mata kerna ingin menyegarkan cinta Mahabbah kepada Rasulillah di samping bergembira dengan nikmat Allah yang terbesar ini sebagai Mubtadi’!

Kalau mereka menyambut hari keputeraan Raja atau Pembesar atau Sultan, itu tidak pula bid’ah. Namun bila kita menyambut hari kelahiran Nabi yang darajatnya tidak bisa untuk disamakan dengan ‘maulid’ para raja atau sultan atau pembesar itu, dikatakan sesat. Tinggalkan sahaja golongan yang tidak besedia untuk mencintai Rasulullah ini..biarkan mereka dengan cinta bohong mereka kepada Baginda.

Bagaimana harus terjadi, kecintaan kepada Rasulillah ‘haram’ diungkapkan dengan madah dan pujian terhadap Baginda? Kalau 'mengikut ajarannya' itu dikira sudah pun ‘cinta’ terhadap Baginda. Tidak semestinya begitu. Di sana ada manusia yang hanya taat patuh kepada perintah sang pemerintah atau raja, namun tidak pula mencintai mereka. Ini situasi yang berbeda sama sekali. Taat dan cinta amat berbeda, walau pun keduanya saling berkait. Taat tidak semestinya menunjukkan kecintaan…Namun bila saja seseorang itu mencintai, pasti dia akan dengan penuh kerelaan hati taat dan patuh kepada orang yang dicintainya itu.


Maka di sinilah letaknya ‘rahsia’ cinta untuk Allah dan Rasul. Cinta ini menerbitkan ketaatan yang setulus jiwa raga. Tanpa ada sebarang tujuan yang diselindungkan di balik amalan taat yang dilakukan. Makanya golongan yang kononya yang cukup hanya mengikut sunnah sahaja sebagai membuktikan cinta, tanpa mahu memupuk rasa kecintaan terhadap Baginda adalah golongan yang belum pasti melakukan amalan taat dengan penuh ikhlas dan murni hati. Pastinya ada sesuatu yg menggerakan kepada amalan itu, seperti ingin mendapatkan kedudukan atau ingin mendapatkan syurga semata-mata.

Kembali kepada persoalan Maulid, siapa yang mula menyambutnya? Jawabannya tidak ada orang lain yang memulakannya selain Rasulullah sendiri. Kerana tersebut dalam Hadis Sahih Muslim dalam ‘Kitab As Siyam’, (Bab Puasa) hadis yang diriwayatkan dari Abi Qatadah:

عن أبي قتادة : أن رسولَ الله صلى الله عليه وسلم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاثنين؟ فقال: فيه وُلِدْتُ، وفيه أُنْزِلَ عَلَيَّ.

Maksudnya :
“Dari Abi Qatadah : Bahawa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari Isnin. Maka Baginda menjawab: Padanya aku dilahirkan dan padanya aku diturunkan akan Al Quran”

Cukuplah hadis di atas menjadi Hujjah yang nyata betapa sambutan Maulid Nabi adalah dimulakan sendiri oleh Rasulullah dengan ibadah puasa pada hari Isnin. Cumanya Rasulullah menyambutnya dengan berpuasa, dan di sana terdapat bermacam-macam cara sambutan yang dibenarkan Islam selama tidak ada padannya perkara-perkara yang bertentangan dengan Syarak.


Wallahu A’lam.


Syukran Jazilan pada Sahabat yang bagi link (komentar) di bawah.
Dalil yang ana tulis di atas adalah cuma satu sahaja dari dalil-dalil yang mensunnahkan diadakan Maulid Nabi yang dinaqal dari Risalah :
حول الاحتفال بذكرى المولد النبوي الشريف
Tulisan Al Marhum Dr. Al Muhaddith As Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani..


Kita dengar Muhadharah/Tausiyah Ringkas tentang Maulid Nabi oleh Beliau..

Sayyidu Ulama Ahli Bait yang lebih kita yakini akan thiqah dari segi kebarakahan ilmu, dari kerana pada merekalah terletaknya kemuliaan nasab dan irtibat Bi Rasulillah... sallallahu alaihi wasallam. Kerana meekalah 'itratihi' yang ditinggalkan selain Al Quran dan As Sunnah.

Lihat latar belakang As Sayyid di :
http://akukertasputih.blogspot.com/2011/06/as-sayyid-muhammad-bin-alawi-bin-abbas.html
berumberkan;
http://yayasansofa.com/v1/?p=147