Tuesday, October 4, 2011

Wasiat Habib Abdullah Alwi Al Haddad

Kehadiran Hati dan Kekhusyukan Anggota Tubuh

Saya berpesan, hendaklah anda selalu menghadirkan diri dan mengkhusyukkan anggota badan di saat melakukan ibadah-ibadah anda. Dengan demikian anda akan meraih buah hasilnya dan tersinari oleh percikan cahayanya. Dan hendaklah anda selalu dalam keadaan siap untuk menerima pengawasan Allah atas segala gerak geri anda. Camlah selalu dalam hati anda bahwa Allah Swt. Adalah Maha cermat dalam pengamatan-Nya dan Maha dekat dengan diri anda.

Upayakanlah agar anda mampu menjadi penasihat bagi diri anda sendiri dan sekaligus pemberi peringatan kepadanya. Ajaklah ia ke jalan Allah dengan Hikmah kebijaksanaan serta nasihat yang baik. Berikan pengertian kepadanya bahwa pengabdian dan ketaatan kepada Allah Swt. Akan membawa rasa kenikmatan abadi, serta kemulian dan kekayaan yang besar. Sebaliknya, meninggalkan pengabdian dan ketaatan lalu melakukan perbuatan maksiat, akan berakibat seksaan batin yang pedih dan kehinaan yang besar. Nafsu manusia, kerana kebodohannya, tidak mahu melakukan atau meninggalkan apa pun kecuali demi sesuatu yang diingininya ataupun yang ditakutinya. Ini mengingat nafsu manusia memang bertabiat selalu malas melakukan ketaatan dan sebaliknya cenderung melakukan pelanggaran.

Saya juga berpesan, hendaklah anda tidak mensia-siakan sedetik pun dari waktu-waktu anda, bahkan setarikan nafas pun, kecuali yang akan membawa manfaat bagi diri anda dalam kehidupan akhirat anda ataupun kehidupan dunia anda yang dapat menolong anda di dalam kehidupan akhirat kelak.

Menghilangkan Was-Was Setan Dari Dalam Hati


Adakalanya muncul dalam hati manusia pelbagai was-was (bisikan jahat setan yang menimbulkan keraguan dalam hati), yang paling sulit diantaranya ialah menyangkut masalah akidah, demikian pula dalam pelbagai amalan peribadatan.
Adapun salah satu cara agar bisa terhindar dari was-was itu ialah, antara lain dengan meneliti secara saksama:apabila was-was tersebut sudah jelas-jelas berkaitan dengan kebatilan, seperti meragukan tentang eksistensi Allah dan hari akhirat, maka tiada jalan lain baginya kecuali harus menolaknya dengan tegas, dengan berpaling darinya dan memohon perlindungan Allah Swt.

Secara tulus, seraya memperbanyak zikir kepada-Nya.
Akan tetapi bilamana bisikan was-was itu masih dalam kerangka sesuatu yang meragukan:apakah termasuk sesuatu yang haqq atau bathil, maka hendaklah meminta fatwa tentang hukumnya kepada orang-orang yang berilmu dan beroleh petunjuk;kemudian berpegang erat-erat dengan fatwa mereka dan mengandalkannya. Adapun setiap perbuatan hati yang dilakukan tanpa adanya unsur kesengajaan, maka kafarat (penebus)-nuya adalah dengan bersikap membencinya.


Menjaga Lidah

Saya berpesan kepada anda agar berupaya sungguh-sungguh dalam menjaga llidah dari ucapan sia-sia. Sebab, lidah adalah cermin isi hati. Kata seorang bijak: “Lidah itu bagaikan binatang buas, bila egkau mengurungnya, ia akan menjagamu. Tetapi bila engkau melepaskannya, ia akan menerkammu”.


Oleh sebab itu, usahakanlah menyibukkan lidah anda hanya dengan sesuatu yang memanng termasuk urusan anda sendiri, misalnya dengan membaca Al-Quran, berzikir dan menyeru manusai ke arah kebaikan. Jangan sekali-kali melibatkannya dalam hal-hal bukan urusan anda. Iaitu ucapan-ucapan yang tidak anda harapkan pahalanya apabila anda ucapkan, dan yang tidak pula anda khuatirkan akan terkena hukuman apabila tidak anda ucapkan. Setiap ucapan menimbulkan konsekuensi antara lain terjerumus dalam suatu tindakan terlarang atau menyia-yiakan waktu yang amat berharga dalam hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat atau meningggalkan bekas yang tidak menyenangkan di dalam hati.

Jelasnya, setiap gerak yang dilakukan atau kalimat yang diucapkan, pasti akan meninggalkan bekas didalam hati. Jika hal itu merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Swt, nescaya akan menimbulkan cahaya di dalamnya. Dan sekiranya hal itu merupakan sesuatu yang mubah sekalipun (yang tidak dianjurkan dan tidak pula dilarang), maka kebanyakan dari hal itu akan menimbulkan kekerasan hati. Apalagi jika hal itu merupakan sesuatu yang terlarang, nescaya akan menimbulkan kegelapan.


Selanjutnya saya berpesan kepada anda agar menghindarkan lidah dan hati anda dari segala perbuatan yang merugikan kaum Muslim secara keseluruhan. Seperti, misalnya berprasangka buruk terhadap mereka. Kerananya jangan sekali-kali bergaul dan duduk berbincang-bincang dengnan orang-orang yang suka menggunjing atau menujukan cercaan terhadap kaum muslim.


Dan jika sampai ke pendengaranmu tentang suatu pebuatan buruk dari seseorang di antara mereka (kaum muslim), sedangkan anda merasa mampu menasihatinya, maka lakukanlah. Atau jika tidak – jangan sekali-kali menyebutkan tentang keburukannya itu di hadapan orang lain, sehingga dengan demikian anda telah melakukan dua keburukan sekaligus: pertama dengan tidak memberinya nasihat; dan kedua, mengucapkan sesuatu yang buruk berkenaan dengan peribadi seorang muslim.


Berbangga Diri

Selanjutnya, saya berpesan hendaknya anda tidak merasa diri lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hati anda, sedarilah betapa anda sudah sering kali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga, seorang yang berakal sihat pasti mengetahui bahawa dirinya sendiri sarat dengan berbagai aib dan kesalahan. Maka hendaklah ia menyakini hal itu dan tidak meragukannya sedikit pun. Dan tidaklah sepatutnya ia menuduh siapa pun dengan keburukan yang belum tentu ada padanya. Sebab, kebanyakkan dari apa yang anda ketahui dari saudara-saudara anda adalah berdasarkan persangkaan dan dugaan semata-mata. Sedangkan persangkaan adalah ucapan-ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan (sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis-penerj.)

Disamping itu, mungkin saja terdapat alasan-alasan pemaafan berkaitan dengan sebahagian keburukan yang diperkirakan seperti itu. Walaupun demikian, tidak sepatutnya seseorang membuka pintu pemaafan bagi dirinya sendiri, mengingnat hal itu akan membuat hati lebih cenderung kepada penyia-yiaan waktu dan terjerumus lebih dalam lagi dalam lembah-lembah syahwat hawa nafsu.

Sungguh, betapa perlunya bagi setiap individu pada zaman ini untuk memberikan dalih-dalih pemaafan serta alasan-alasan pembenaran bagi orang lain, mengingat langkahya orang-orang yang benar-benar jujur dan istiqamah, di samping banyaknya berita-berita bohong yang disebarluaskan oleh mereka yang tidak bertanggungjawab.
Menjauhkan Diri Dari Pergaulan Yang Tidak Sihat


Sungguh berbahagialah orang yang memisahkan diri dari masyarakat zaman ini, dan lebih memilih menyibukkan dirinya bersama Tuhannya daripada melibatkan diri dalam pergaulan dengan mereka dan segala keburukan mereka; dengan penuh ketabahan, sampai datangnya ‘keyakinan’ yang berupa pembukaan pintu hatinya ke arah alam malakut yang tinggi-jika ia termasuk dalam kalangan ‘khusus’ atau sampai datang kepadanya ‘keyakinan’ yang lain, yakni kematian, sebagaimana diisyaratkan (dalam Al-Quran), baik ia tergolong di kalangan khusus ataupun awam.

Oleh sebab itu, saya berpesan kepada anda, jauhkanlah dirimu dari pergaulan dengan siapa saja yang curigai keadaannya; jangan duduk-duduk besama mereka, atau bercampur gaul dengan mereka. Kecuali dalam keadaan di mana anda sangat memerlukannya. Itu pun dengan penuh kewaspadaan dan sikap hati-hati, demi terhindarnya anda dari keburukan anda sendiri an terhindarnya anda dari keburukan mereka. Demikian itulah hendaknya dasar niat anda ketika menjauhi pergaulan dengan mereka itu.


Maka janganlah duduk bersama siapa pun kecuali mereka yang akan memberimu manfaat dalam agamamu. Apabila hal seperti itu sulit terlaksana, maka larilah menjauh dari mereka yang akan membawa petaka bagi agamu, sebagaimana anda lari jauh menjauh dari binatang buas, bahkan labih dari itu. Kerana binatang buas hanya akan melukai anggota tubuhmu, yang nantinya hanya akan menjadi mangsa ulat bumi, sedangkan setan yang satu ini akan merosak kalbumu, yang dengannya anda mengenal Tuhan dan agama anda, dan akan menghantarmu ke akhirat dengan selamat.


Kewajipan Mengenali Dasar Hukum Allah dalam Segala Hal

Saya berpesan agar anda tidak melibatkan diri dalam suatu perkara apa pun yang belum anda ketahui dasar hukum Allah tentangnya. Upayakanlah mencar kejelasan terlebih dahulu mengenai ketetapan hukum Allah itu sebelum bertindak,s ehingga cukup jelasa bagi anda, mana yang diredhai Allah mengenai tindakan anda itu, dan mana yang ahrus anda tinggalkan. Dengan demikian, anda telah melakukan atau meninggalkan suatu pekerjaan dengan kepastian dan niat yang baik adanya.


Bersikap Tawadhu’ (Rendah Hati)

Saya juga berpesan agar anda selalu bersikap tawadhu’ (rendah hati). Sikap tawadhu’ adalah sifat yang terpuji pada segala kondisi, kecuali dalam satu hal saja, yaitu ber-tawadhu’ di hadapan para ahli dunia dengan tujuan ingin mendapatkan sesuatu dari dunia mereka atau harta mereka. Sedangkan sifat takabur (angkuh atau tinggi hati) adalah sifat yang amat tercela pada segala kondisi, kecuali dalam hal mneghadapi orang-orang zalim yang terus menerus berbuat kezaliman. Sikap yangd emikian itu demi menujukan teguran atau protes keras terhadap mereka, asal saja keangkuhan seperti itu hanya tampak secara lahirian saja, sementara hati kita kosong dari sifat keangkuhan seperti itu.



Melakukan Kebajikan Terhadap Sesama Muslim

Saya berpesan hendaklah anda selalu meniatkan yang baik-baik saja bagi seluruh kaum Muslim. Cintailah bagi mereka apa yang anda cintai bagi diri anda sendiri, dalam urusan duniawi maupun ukhrawi dan tidak menyukai sesuatu yang menimpa mereka sebagaimana anda tidak menyukai hal itu menimpa diri anda sendiri baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Berdialoglah dengan mereka ucapan-ucapan yang baik, tidak yang mengandung pelanggaran. Ucapkan salam kepada mereka kapan saja bertemu.

Bersikaplah selalu rendah hati, lemah lembut, penuh kasih sayang terhadap mereka. Tunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada siapa-siapa yang berperilaku baik, dan upayakanlah agar memaafkan siapa-siapa yang berperilaku buruk. Dan berdoalah bagi mereka yang berdosa agar Allah Swt memberikan kemudahan kepada mereka untuk segera bertaubat. Dan bagi mereka yang telah berbuat kebaikan agar Allah Swt. Menganugerahkan sifat istiqamah, atau konsisten dalam melakukan kebaikan-kebaikan sampai akhir hayat.


Jangan sekali-kali bersikap atau bergaya hidup meniru-niru kaum yang sombong dan angkuh, baik dalam cara mereka berbicara, berbusana, berjalan, duduk dan sebagainya. Kerana barangsiapa meniru tingkah laku dan kebiasaan suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka juga, sekalipun ia sendiri tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang biasa mereka lakukan. Ini meliputi semua aspek kehidupan, yang baik apalagi yang buruk.




Membiasakan Diri Hidup Sederhana


Saya juga berpesan kepada anda, hendaklah selalu menngutamakan keserdehanaan dalam pola kehidupan anda sehari-hari, baik yang berkenaan dengan makanan, busana maupun rumah tempat tinggal anda. Semata-mata demi bersikap rendah hati (ber-tawadhu’) dalam agama, lebih mengutamakan akhirat dan sebagai manifestasi dari menjadikan Nabi Muhammad Saw. Sebagai teladan utama.


Ketahuilah bahawa melaksanakan keserdahanaan dalam kehidupan duniawi merupakan titk pangkal dari segala kebaikan. Dan tidaklah Allah Swt. Mengkhususkan seseorang dengan sikap seperti itu, kecuali ia pasti mengkehendaki kemuliaan baginya dalam kehidupan didunia maupun di akhirat. Dengan syarat, ia merasa ridha (puas hati) sepenuhnya atas apa yang dianugerahkan Allah Swt. baginya, tidak tertarik kepada keindahan duniawi yang ada di sekelilingnya dan tidak mengharap-harap diberikan kepadanya apa yang diberikan oleh-Nya kepada para ahli dunia, agar ia dapat merasakan kenikmatan duniawi seperti yang mereka rasakan.

sumber:
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150400116091999&set=a.422328956998.217003.295419981998&type=1&theater

No comments:

Post a Comment